Cerita dewasa

watch sexy videos at nza-vids!
Pelet Pemikat Sukma - Jepri Wap my id - <head><link rel="canonical" href="http://m.jiono.jw.lt/files/Cerita_seks/__xtblog_entry/10725411-pelet-pemikat-sukma?" /><link rel="alternate" type="application/rss+xml" title="RSS" href="http://m.jiono.jw.lt/files/Cerita_seks?__xtblog_rss=VHlmdkp5SU1vM010TFVNaUd6RXhyRXl4" /><script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5123984169153633" crossorigin="anonymous"></script> دروس مجانية مدونة وأحدث المعلومات الموثوقة وعالم تحميل الهواتف المحمولة مجانا durus majaniat mudawanat wa'ahdath almaelumat almawthuqat waealam tahmil alhawa <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1841110600500498" crossorigin="anonymous"></script>

PropellerAds

guna-guna pemikat sukma
Berikut ini adalah kisah hidupku yang
penuh dilumuri nafsu seks. Gara-gara
menghindari guna-guna seksual
majikanku, aku malah terjerumus jadi
pemuas nafsu mbah dukun.
Sejak suamiku meninggal karena sakit
pada akhir Oktober 1994, aku tinggal di
rumah sendirian. Kedua anak kami,
Basuki dan Nina, telah dua tahun ini
bekerja di Jakarta setelah lulus SMA-
nya. Sewaktu ayahnya meninggal, praktis
mereka hanya satu minggu tinggal di
rumah menemaniku. Setelah itu mereka
harus kembali bekerja karena izin
cutinya habis. Ya, bagaimana pun
kesedihan tak boleh berlarut-larut. Satu
minggu cukuplah sudah menangisi
kepergian orang yang sangat kami cintai
itu. Selanjutnya kami kembali harus
berjuang mempertahankan hidup,
mengisi perut.
Kami tergolong keluarga kurang mampu.
Suamiku yang bekerja sebagai makelar
tidak setiap hari membawa hasil. Ia jadi
makelar apa saja. Dari sepeda motor,
mobil, rumah, tanah bahkan kalau perlu
jual sepeda sekalipun. Prinsipnya, yang
penting halal dan menghasilkan. Aku
kagum oleh semangat kerja dan
keuletannya. Dan hasilnya tidak
mengecewakan, terbukti dengan
berhasilnya kedua anak kami
menyelesaikan studi di SMA. Tidak sia-
sia hasil jerih payah suamiku yang hanya
lulusan SMP itu. Aku, yang SMP pun
tidak lulus, hanya mendukungnya
dengan sepandai mungkin mengatur
keuangan keluarga sejak kami menikah
sekitar 20 tahun yang lalu.
Waktu naik ke pelaminan, usiaku masih
18 tahun, sedangkan suami sudah 25
tahun. Sementara itu, aku sendiri juga
tidak mau diam menganggur di rumah.
Aku jadi buruh cuci pada keluarga-
keluarga yang memerlukan. Kadang
cucian kubawa ke rumah, tidak jarang
pula aku harus mencuci di rumah
pelangganku. Gabungan penghasilan
kami cukuplah untuk kehidupan sehari-
hari dan menyekolahkan Basuki dan
Nina meski hanya sampai SMA.
Bersyukur pula kami dikaruniai dua anak
yang penuh pengertian. Yang tidak
menuntut studi terlalu tinggi mengingat
ketiadaan biaya.
"Kami akan bekerja dulu mengumpulkan
uang, Bu. Nanti kalau ingin kuliah akan
kami biayai sendiri," kata kedua anakku
membuat hatiku terharu sewaktu
melepas keberangkatan mereka bekerja
di Tangerang.
Basuki bekerja menjadi buruh pabrik
sepatu, sementara Nina yang
dijemputnya setelah lulus SMA tahun
berikutnya bekerja jadi karyawati di
salah satu supermarket. Untuk
menghemat biaya mereka tinggal di satu
kamar kos kecil di perkampungan
Tangerang yang sewanya 50 ribu rupiah
per bulan. Bila ada rejeki dan waktu
senggang mereka jalan-jalan ke Jakarta
yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Suatu malam, beberapa minggu setelah
peringatan seratus hari meninggalnya
suamiku, mendadak aku terbangun dari
tidur. Udara kurasakan panas sekali saat
itu. Padahal jam weaker waktu itu baru
menunjukkan pukul satu dini hari lewat
beberapa menit, namun panasnya
serasa kalau kita berdiri di jalan raya
pukul 12 siang. Keringatku berleleran di
seluruh tubuh. Daster tidurku rasanya
sudah basah kuyup dan bisa diperas.
Meski aku tinggal di perkampungan
padat penduduk, tapi tidak pernah
udaranya sepanas ini. Terpaksa daster
kulepas dan kukeringkan tubuhku
dengan handuk sebelum mengenakan
daster baru. Namun sebentar saja
tubuhku sudah basah lagi oleh keringat.
Jendela kamar kubuka supaya udara
masuk. Ini pun tidak menolong, karena
rumahku yang kecil berada di sela-sela
rumah besar lainnya yang bertembok
rapat. Tidak banyak angin yang masuk
melalui jendela. Akhirnya, setelah
jendela kututup kembali, kuputuskan
keluar rumah. Kututup pintu perlahan di
belakangku tanpa menguncinya.
Kuperhatikan sekitar, malu kalau
ketahuan malam-malam seperti ini
keluar rumah karena aku wanita.
Mendadak, seperti ada yang menarikku,
kakiku melangkah meninggalkan rumah.
Aku yang semula hanya ingin berangin-
angin di depan rumah tidak kuasa
menahan kakiku yang berjalan dan terus
berjalan melewati jalan-jalan kecil
berkelok-kelok. Beberapa rumah
tetangga sudah terlewati. Hatiku
menyatakan ingin berhenti dan pulang
ke rumah, namun pikiranku seperti
kosong dan terus mengikuti kemana kaki
melangkah. Akhirnya setelah beberapa
puluh meter berjalan, aku sampai di
depan rumah Pak Kosim, pria berusia
50 tahunan. Selama ini keluarganya juga
menyuruhku membantu mencuci
pakaian.
Tidak lama aku berdiri, pintu rumah Pak
Kosim terbuka dan nampak pria itu
menyambut kedatanganku.
"Silakan masuk Surti," langsung saja Pak
Kosim mempersilakanku masuk ke
rumahnya.
Entah kenapa, aku pun tidak canggung
lagi melangkah masuk. Setelah menutup
dan mengunci pintu, Pak Kosim
menuntunku ke dalam. Kemudian aku
tahu, karena sudah sering memasuki
rumah ini, bahwa kami sedang menuju
ke kamar Pak Kosim. Pintu kamar
dibuka dan di dalamnya kosong.
"Kemana Bu Kosim?" hatiku bertanya.
Gilanya aku menurut saja ketika
tanganku ditarik Pak Kosim memasuki
kamar itu dan dibimbingnya ke tempat
tidur.
"Ini diminum dulu, Sur."
Entah kapan dibuat, ternyata di
kamarnya sudah tersedia segelas air teh
yang sepertinya memang disediakan
untukku. Aku yang kepanasan segera
meminumnya habis.
"Tolong pijiti aku, Sur," pinta Pak Kosim
lalu membuka kaos yang dikenakan dan
merebahkan diri ke ranjang.
Seperti terhipnotis, aku yang seumur
hidup belum pernah memijati orang lain
selain suamiku, segera saja
melaksanakan perintah itu. Gila! Mulutku
pun rasanya kelu untuk berkata-kata
menanyakan kejanggalan ini. Sementara
tanganku terus sibuk memijat.
"Kamu kepanasan ya, Sur? Keringatmu
sampai keluar banyak sekali?" Pak
Kosim melihatku sambil membalik
tubuhnya jadi telentang.
Aku hanya mengangguk. Tubuhku
memang rasanya bertambah panas
saja.
"Buka saja dastermu kalau panas.."
ucapnya lagi sambil bangkit dan
berupaya membantuku membuka
daster.
Herannya, aku yang tetap yakin ada
yang tidak beres, tidak menolaknya.
Malahan diam saja ketika Pak Kosim
tidak hanya membuka dasterku, namun
juga seluruh yang melekat di tubuhku.
Lalu membaringkanku ke ranjangnya,
dan ganti dia yang memijatiku. Sebentar
kemudian kurasakan tubuhku sudah
digelutinya.
"Ini perzinahan!" teriak bathinku.
Tapi lagi-lagi semua nuraniku melayang
entah kemana. Tambahan lagi aku yang
sudah berbulan-bulan "puasa" dari
nafkah bathin mendadak merasakan
desakan kebutuhan itu meletup-letup.
Seperti kesetanan aku pun melayani
kegilaan Pak Kosim. Tubuh kami pun
segera mandi keringat.
Aku tersadar ketika tubuhku digoyang-
goyangkan.
"Bangun, Mbak. Bangun..!" samar-samar
kudengar suara beberapa orang.
Geragapan aku terbangun dan betapa
kaget mendapati diri tergeletak di
pinggir jalan di bawah pohon besar.
Beberapa penduduk yang tugas ronda
menemukanku tertidur di situ sekitar
pukul empat pagi.
"Ini Mbak Surti, kan? Kenapa tidur di
sini?" tanya mereka.
"Ak.. aku sendiri juga tidak tahu,"
sahutku bingung.
"Mbak dari bepergian ya?" tanya
seseorang.
"Ti.. tidak," jawabku.
Aku masih nanar, dan tidak begitu yakin
apakah pengalamanku dengan Pak
Kosim itu kenyataan atau bukan.
"Tadi aku tidur di rumah," sambungku.
"Jangan-jangan..," bisik yang lain, "Mbak
Surti dipindahkan setan penunggu
pohon ini! Katanya pohon ini memang
agak angker."
Aku jadi merinding mendengarnya.
Meski begitu aku diam saja. Demikian
juga ketika mereka mengantarku ke
rumah. Aku tetap bungkam, dan tidak
hendak menceritakan pengalamanku
tadi. Pertimbanganku, kalau kejadian
yang kualami tadi hanya mimpi, pasti
aku akan ditertawakan. Sebaliknya kalau
sungguh-sungguh terjadi aku akan lebih
malu lagi.
Setelah para peronda yang mengantarku
pergi, cepat-cepat kukunci pintu rumah,
lalu bergegas ke kamar mandi.
Kuperiksa diriku, dan benar saja.., masih
terasa ada bercak-bercak cairan di
sekitar pahaku. Segera kubersihkan
tubuhku dan mandi keramas. Namun
toh bayangan kejadian dengan Pak
Kosim itu tidak dapat lepas dari
benakku. Bahkan aku akhirnya meyakini
perzinahan itu sungguh-sungguh terjadi,
meski tidak pernah tahu bagaimana hal
itu dapat berlangsung.
Beberapa hari setelah itu aku merasa
sangat malas keluar rumah. Pekerjaan
mencuci kukerjakan di rumah. Aku hanya
mengambilnya dari rumah ke rumah,
lalu segera pulang. Untuk kemudian
mengembalikannya sore hari setelah
rapih kuseterika. Begitu pula dengan
cucian keluarga Pak Kosim yang sudah
langganan tiga hari sekali harus
dicucikan. Aku agak jengah juga ketika
mengambil cucian ke rumahnya. Di sana
kutemui Bu Kosim dan anak-anaknya
ada di rumah. Sementara Pak Kosim
seperti biasa tidak mau ikut-ikutan
urusan cucian. Aku sempat melirik
kepadanya, tapi ia nampak biasa saja
membaca koran seperti tidak pernah
terjadi apa-apa. Hal ini membuatku jadi
meragukan kesimpulanku mengenai
peristiwa memalukan dengan Pak
Kosim itu.
"Apa aku cuma mimpi ya?" bathinku
bertanya.
Pertanyaan itu terjawab ketika tiga
minggu kemudian kualami kejadian
serupa. Aku terbangun dari tidur di
tengah malam dengan tubuh mandi
keringat. Aku juga sadar sesadar-
sadarnya sewaktu membuka pintu,
keluar rumah dan.. lagi-lagi berjalan
menuju ke rumah Pak Kosim. Namun
sejak minggu lalu aku sudah menyiapkan
beberapa potong kayu kecil dan selalu
menaruhnya di meja kamar. Kubawa
kayu-kayu itu dan kuselipkan di
beberapa cabang pohon yang kulewati.
Kembali Pak Kosim menyambutku di
pintu rumahnya dan membawaku ke
kamarnya, lalu memberiku segelas teh
manis. Gilanya, begitu teh habis
kuminum, mendadak birahiku meledak-
ledak menuntut pemuasan. Tanpa malu-
malu kulepas daster dan seluruh yang
menempel di tubuh, lalu serta-merta
kutarik Pak Kosim. Sejenak kemudian
kami sudah berpacu di dalam nafsu.
Entah berapa kali aku minta dipuasi,
yang jelas kurasakan Pak Kosim
berkekuatan bak kuda jantan, padahal
sehari-hari ia nampak seperti orang tua
yang lemah. Mungkin ia minum obat
atau jamu tertentu?
Samar-samar kudengar jam dinding
kuno berdentang tiga kali ketika kami
menyelesaikan ronde yang entah
keberapa. Meski masih ingin terus
berpacu, namun rasa kantuk yang amat
sangat memberatkan mataku. Aku
terlelap dengan mimpi indah bersama
Pak Kosim. Sekonyong-konyong mimpi
indahku berantakan sewaktu kurasakan
tubuhku digoyang-goyang. Aku
terbangun dan mendapati diri tertidur di
bawah pohon besar itu lagi!
"Jangan tidur di sini, Mbak," ucap yang
membangunkanku.
Aku terkejut. Di hadapanku berjongkok
seorang pemuda berjaket kulit dengan
tubuh besar dan atletis. Sedangkan dua
temannya yang berpostur hampir sama
ikut pula berdiri mengelilingiku. Lampu
jalan yang tidak terlalu terang
membuatku tidak mampu mengenali
wajah mereka yang membelakangi
lampu itu.
"Mari ke rumah saya saja, Mbak. Nggak
jauh kok. Besok pagi baru saya antar
pulang," ajaknya sambil memegang
lenganku dan membantuku berdiri.
Aku menurut saja ketika dia
menuntunku, bahkan memakaikan
jaketnya, lalu merangkulkan tangannya
ke pundakku. Dalam keadaan yang
masih nanar, aku justru tidak memilih
diantar pulang. Kuikuti mereka hingga
sampai ke sebuah rumah kecil di sudut
kampung. Pernah beberapa kali aku
melewati rumah itu di waktu siang,
tetapi keadaannya selalu tertutup.
Rupanya pemuda ini pemiliknya, pikirku.
Aku pun jadi tidak kuatir pada mereka.
Mereka pastilah anak-anak kampung sini
juga.
"Maaf rumahnya gelap, Mbak." ucap
pemuda yang membimbingku sambil
menyalakan korek apinya dan membuka
pintu rumah yang kelihatannya tidak
terkunci.
Aku mengikutinya masuk diikuti kedua
teman si pemuda yang segera menutup
pintu dan ikut menyalakan korek apinya.
Pengap sekali rumah ini. Di dalamnya
nampak banyak sarang laba-laba dan
hanya ada satu dipan dengan tikar tua di
atasnya.
"Saya memang jarang tinggal di sini,
mbak. Jadi rumahnya kurang terurus.
Paling ke sini cuma untuk istirahat tidur
saja seminggu sekali," jelas si pemuda
sambil membersihkan dipan dan tikar
dari sarang laba-laba.
"Silakan istirahat di sini, Mbak." dia
mempersilakanku.
Aku duduk di tempat yang sudah
dibersihkannya. Sedangkan temannya
sibuk memasang lilin yang entah dari
mana dapatnya, sehingga tidak harus
memegangi korek apinya terus.
"Mbak sakit ya..?" tanya pemuda itu
setelah duduk di samping kiriku.
Samar-samar kulihat tato bunga mawar
kecil di lengan kanannya yang berotot.
"Tt.. tidak," sahutku.
Dari tadi rasanya berat sekali mulut ini
untuk bicara. Lalu aku menunduk lagi.
"Kalau tidak, kenapa kami temukan tidur
seperti orang pingsan di bawah
pohon..?"
"Saya tidak tahu, Mas," jawabku masih
dalam keadaan serba bingung dengan
peristiwa yang kualami.
Untuk menceritakan pengalamanku
dengan Pak Kosim aku juga malu.
"Wajah Mbak juga kelihatan pucat sekali.
Lebih baik tiduran saja di sini.."
Lalu kurasakan tangannya merangkul
pundakku, dan setengah menarikku
untuk berbaring di dipan yang telah
dibersihkannya. Aku yang menerima
maksud baik itu menurutinya.
Kubaringkan tubuhku.
"Kepalanya dipijit ya, Mbak, biar
pusingnya hilang," ucapnya lagi sambil
merapatkan duduknya kepadaku.
Sebentar kemudian kurasakan pelipisku
dipijatnya. Mula-mula aku jengah juga
dipijat seperti itu oleh seorang pria,
namun lama-lama kubiarkan juga.
Kepalaku memang terasa agak berat
setelah mengalami peristiwa aneh tadi.
Wajah kami berhadap-hadapan.
Beruntung suasananya cukup gelap
untuk menyembunyikan rona merah
wajahku. Kupejamkan mataku untuk
mengurangi rasa jengah itu. Kunikmati
pijatannya. Sejenak kemudian kurasakan
tangannya turun memijati pundakku
dan.. kurasakan hembusan nafas di
wajahku. Kubuka mataku dan kulihat
wajah pemuda itu dekat sekali di atasku.
"Mbak.." bisiknya pelan, lalu kurasakan
desahan nafas itu semakin dekat dan
semakin dekat hingga.. menerpa bibirku
yang segera diciumnya.
Sementara tubuhku pun kurasakan
sudah ditindihnya. Aku tidak sempat
mengelak. Apalagi ia juga memegang
kepalaku dengan tangan kekarnya,
sehingga untuk menggeleng pun aku
tidak bisa. Mau tidak mau ciuman itu
harus kurasakan, juga ketika lidahnya
membeliti lidahku dan menelusuri langit-
langit mulutku.
Aku ingin memberontak, tapi rasanya
tidak berdaya. Malahan aku ingat
pengalamanku dengan Pak Kosim yang
masih membekas, dan sedikit demi
sedikit birahiku kembali meletup. Ada
pertentangan antara keinginan menolak
dan memenuhi gairah birahiku. Dan
ternyata yang belakangan ini yang
menang, apalagi setelah kemudian juga
kurasakan belaian tangan-tangan kedua
teman si pemuda di daerah sensitifku.
Dengan cepat aku terangsang.
Aku tidak ingat lagi kapan mereka
membuatku seperti bayi yang baru lahir.
Yang pasti, peristiwa seperti dengan Pak
Kosim terulang lagi. Bedanya, kali ini aku
melayani tiga pemuda bertubuh kekar.
Entah berapa kali mereka menggilirku.
Memuaskan syahwatnya di atas tubuhku
selama berjam-jam. Anehnya aku tidak
merasa lelah. Mungkin pengaruh
minuman yang diberikan Pak Kosim
masih bekerja, baik sebagai perangsang
maupun obat kuat. Aku seperti orang
ketagihan dipuasi terus menerus, tidak
perduli sudah berkali-kali orgasme.
Terang sinar matahari yang panas
menerobos dari lubang-lubang atap
menyilaukan dan membangunkanku dari
tidur. Kudapati tubuhku masih tergolek
telanjang di dipan beralas tikar.
Pakaianku berserakan. Cepat aku sadar
dan berusaha bangkit meraihnya, namun
tubuhku kembali ambruk ke dipan.
Lututku gemetaran. Luluh lantak rasanya
badanku, bergerak sedikit saja terasa
sakit semua. Terpaksa aku merambat
perlahan menuruni dipan, lalu
memunguti pakaian.
Dengan berpegangan dinding, kucoba
berjalan keluar tertatih-tatih. Terasa
agak nyeri di selangkanganku. Pasti gara-
gara dirajam oleh ketiga pemuda yang
sudah tidak terlihat lagi bayangannya
itu. Ternyata aku telah tertipu oleh para
pemuda yang nampaknya alim dan
kukira pemilik rumah itu. Dengan cara
yang amat halus, aku telah menjadi
korban mereka. Gara-gara obat
perangsang Pak Kosim pula aku tidak
menolak untuk melayani nafsu mereka,
oh..
Dengan berpegangan pagar atau
pepohonan, aku berjalan pelan menuju
ke rumah. Kuusahakan tidak ada orang
yang melihatku. Sengaja aku lewat jalan
yang semalam kulalui untuk melihat
potongan-potongan kayu yang
kupasang. Ternyata memang masih ada.
Berarti semalam aku tidak bermimpi
ketika berjalan menuju ke rumah Pak
Kosim. Segera kusimpulkan, pasti aku
telah diguna-guna oleh pria itu. Baru
setelah agak dekat ke rumah, kukuat-
kuatkan untuk berjalan biasa meski
harus menahan sakit.
Sampai di rumah, segera aku masuk ke
kamar dan langsung menjatuhkan tubuh
lunglai ini ke ranjang. Aku menangis
sedih teringat apa yang telah terjadi.
Tanpa kuasa menolak aku telah
terjerumus ke lembah perzinahan.
Pertama, aku melayani Pak Kosim
hingga dua kali. Kedua, menjadi korban
kebiadaban tiga pemuda yang telah
memanfaatkan kondisiku yang tidak
wajar waktu itu. Baru setelah matahari
berada di puncaknya, kupaksakan untuk
membersihkan diri. Mandi dan mencuci
segala noda yang menempel.
Dalam kesendirian sekarang ini,
kurasakan hidup terasa jadi berat sekali.
Suami tempatku bersandar tiada lagi.
Anak-anak pun jauh di rantau. Tinggallah
aku sendiri, di usia menjelang 40 tahun
ini harus memutuskan segala
sesuatunya sendiri. Meski tubuhku
sudah sehat kembali, dua hari aku tidak
keluar rumah. Aku masih tergoncang
oleh peristiwa durjana yang kualami.
Beberapa tetangga dan pelanggan
cucianku sampai berdatangan. Aku
hanya memberi alasan sedang tidak
sehat. Mereka pun maklum kalau
kemudian selama seminggu itu aku tidak
mencucikan pakaiannya.
Tiga hari berikutnya, kuputuskan untuk
berupaya melawan guna-guna Pak
Kosim. Pagi-pagi sekali sebelum jalanan
ramai, aku sudah pergi ke desa
Sumbersari, sekitar 25 km dari kotaku.
Aku pernah dengar di sana ada seorang
dukun atau semacam paranormal yang
dapat mengobati bermacam penyakit
dan membantu orang-orang yang kena
teluh atau guna-guna. Dengan berganti
kendaraan dua kali ditambah sekali naik
ojek, sampailah aku ke rumah dukun
yang bernama Mbah Purwo itu.
Rupanya memang dia sudah terkenal
sampai tukang ojek pun tahu rumahnya.
"Saya sudah biasa mengantar orang ke
sini, Mbak," kata si tukang ojek.
"Lalu pulangnya nanti bagaimana, Mas?"
tanyaku.
"Kita janjian saja, Mbak. Nanti saya
jemput ke sini sekitar tiga jam lagi
bagaimana..?"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang jam 8
pagi, berarti nanti jam 11 Masnya ke sini
ya," pintaku sambil melihat jam tangan.
"Ya, Mbak. Sekarang saya mau kembali
dulu ke pangkalan."
Masuk ke rumah dukun itu ternyata
saya harus menunggu, karena sedang
ada pasien di dalam. Pagi benar ia
datang? Beruntung tidak sampai satu
jam mereka telah selesai. Kulihat
seorang pemuda keluar dari ruang
praktek Mbah Purwo. Jalannya nampak
tergesa-gesa tanpa menoleh kiri-kanan.
Mungkin takut kedatangannya diketahui
orang lain. Pada umumnya memang
orang-orang yang datang ke tempat
semacam itu tidak mau diketahui orang
lain. Persis seperti orang yang datang ke
tempat judi atau pelacuran saja, pikirku.
Kenapa harus malu kalau memang kita
tidak berbuat yang memalukan?
Mungkin pemuda tadi telah berbuat hal
yang memalukan?
Kumasuki ruang praktek Mbah Purwo.
Nampak agak remang-remang karena
lampunya yang dipasang hanya balon
sekitar 15 watt.
"Selamat pagi, Mbah," sapaku pada pria
yang ternyata usianya masih separuh
baya itu.
Aku geli karena seumur ini sudah
dipanggil "Mbah" yang berarti kakek tua.
"Pagi, mbak. Ada yang bisa saya
bantu..?"
Setelah memperkenalkan diri saya
berkata, "Iya, Mbah. Saya mengalami
peristiwa aneh. Bahkan sampai dua
kali."
"Peristiwa apa itu, Mbak Surti?"
"Begini, Mbah.." lalu kuceritakan semua
yang kualami dengan Pak Kosim. Tentu
saja aku tidak menceritakan
pengalamanku yang amat memalukan
dengan ketiga pemuda berandal itu.
"Jadi Mbak menduga Pak Kosim
memakai guna-guna untuk menguasai,
Mbak, begitu?"
"Iya, Mbah. Kalau tidak, mana bisa saya
sampai begitu menurut."
"Ng.. baiklah. Coba saya lihat telapak
tangan kiri Mbak Surti.."
Kusodorkan telapak kiriku pada Mbah
Purwo yang kemudian memegang dan
mengamatinya. Kemudian ia
memejamkan mata dan beberapa kali
membuat tanda silang dengan jarinya di
telapakku.
Setelah beberapa menit, barulah ia
membuka matanya.
"Aduuhh.. karena kejadiannya sudah tiga
hari, saya tidak mampu melacaknya
hanya melalui tangan yang sudah
seringkali dicuci," ungkap Mbah Purwo,
kemudian melanjutkan, "Maaf, Mbak,
kalau tidak keberatan saya akan
melacaknya melalui bagian tubuh Mbak
yang kemungkinan besar masih
meninggalkan bekas keringat atau cairan
tubuh Pak Kosim.."
"Bagian tubuh yang mana, Mbah?"
tanyaku.
"Sekali lagi maaf, Mbak. Kemungkinan
yang pertama ada di bibir, dada atau
bagian tubuh lain yang pernah dicium,
sehingga air ludah atau keringat Pak
Kosim menempel di situ. Yang kedua
adalah bagian kemaluan yang menerima
siraman air maninya. Sudah tentu yang
kedua berkemungkinan lebih besar
karena bagian itu terletak di dalam
sehingga tidak mudah hilang walau
sudah mandi beberapa kali."
Mendengar ini aku tercenung sejenak,
berpikir untung-ruginya bila memenuhi
permintaan itu.
"Apa tidak ada cara lain, Mbah?" aku
coba mengelak.
"Ada sih ada Mbak, tapi ini berarti Mbak
harus pulang dan berusaha mendapat
pakaian yang baru dikenakan Pak Kosim
dan masih dilekati keringatnya. Dan
pakaian itu tidak boleh dicuci. Saya
harus mendapatkan pakaian itu hari ini
juga sebelum daya magis yang
mempengaruhi Mbak hilang seluruhnya."
Sebenarnya tidak sulit untuk
mendapatkan pakaian itu, karena aku
biasa mencucikan pakaian keluarga Pak
Kosim. Tapi sekarang aku terbentur soal
waktu. Rasanya tidak mungkin
mendapatkannya hari ini langsung aku
harus kembali ke sini lagi. Bisa-bisa aku
nanti harus menginap. Akhirnya, setelah
kupikir-pikir kupilih cara pertama, yakni
mengambil bekas cairan tubuh yang
masih menempel di tubuhku. Toh ini
sama seperti kalau aku diperiksa dokter,
pikirku.
"Silakan buka pakaian di kamar itu,
Mbak," instruksi Mbah Purwo sambil
menunjuk ke sebuah bilik kecil tertutup
berukuran sekitar 1,5 kali 2 meter di
sudut kamar prakteknya yang cukup
luas.
Kumasuki bilik kecil itu yang
penerangannya hanya lampu merah lima
watt. Segera setelah pintu kututup,
kucium bau dupa harum dan seperti
cendana yang menyengat. Bau tadi
berpadu dengan bau bunga melati yang
bertebaran di atas dipan berkasur tipis
di ruang itu. Mula-mula seram juga
dengan suasana itu, tapi kemudian bau
itu terasa semakin harum di hidungku.
Semakin menyegarkan dadaku yang
menghirupnya. Kubuka gaunku, seperti
bila sedang memeriksakan diri ke dokter
kandungan. Lalu kubaringkan tubuhku
telentang di atas kasur.Bermenit-menit
kutunggu Mbah Purwo, tapi belum juga
datang, sampai mataku terasa
mengantuk lalu kupejamkan. Kuhirup
bau-bauan harum di ruang itu
sepuasnya. Betapa nikmat kalau aku
dapat terus beristirahat dalam suasana
tenang dan harum seperti ini.
"Maaf, Mbak.." entah kapan masuknya,
mendadak saja kudengar suara Mbah
Purwo di sampingku.
Mata segera kubuka dan kulihat pria itu
bertelanjang dada. Dadanya nampak
berbulu lebat dan kekar. Besarnya
hampir dua kali tubuhku. Dia memakai
kalung dengan liontin berbentuk patung
kepala ular.
"Tolong mulutnya dibuka!" perintahnya.
Kubuka mulutku lalu sebentar kemudian
jari telunjuk kanannya dimasukkan. Jari
yang besar panjang itu kemudian
merayapi langit-langit mulutku. Kadang
berhenti sejenak dan menekan-nekan di
suatu tempat. Lalu bergerak lagi hingga
beberapa menit. Karena capai
membuka mulut, maka aku
mengatupkan bibir sedikit. Yang penting
toh jarinya masih bisa bergerak, pikirku.
Mbah Purwo diam saja, dan jadilah aku
seperti orang yang sedang mengulum
jarinya. Kututup mataku kembali karena
agak jengah dengan situasi ini.
Diputarnya jari itu beberapa kali di
sepanjang langit-langit, pipi hingga
bagian bawah mulutku. Akhirnya
berhenti dan ditempelkan ke lidahku.
"Hisap, Mbak. Hisap yang kuat!"
perintahnya lagi dengan suara terdengar
keras.
Dengan canggung-canggung aku
menurutinya. Pertama kuhisap sedikit,
lalu kulepaskan sambil menelan ludah.
Terasa manis jari tangannya.
"Lagi, mbak. Yang lebih kuat!" suara
keras itu terdengar lagi.
Maka bagai tersugesti aku sekarang
menghisapnya lebih kuat. Herannya,
rasa manis pada jari itu seperti tidak
berkurang. Aku seperti sedang
mengulum kembang gula yang tidak
habis-habis sari manisnya, kuhisap dan
kutelan rasa manis itu berlama-lama.
"Cukup!" suara itu menghentikan
hisapanku.
Mbah Purwo mengeluarkan jarinya dari
mulutku, lalu memasukkannya ke
mulutnya sendiri sambil memejamkan
mata. Tubuhnya nampak berkeringat
dan licin.
"Masih tidak terlacak, Mbak," desahnya
sambil geleng-geleng kepala.
"Kita sekarang harus coba di bagian
leher dan dada. Maaf, Mbak.."
Kali ini kulihat Mbah Purwo
menggerakkan kaki, sehingga
mengangkangiku di atas kasur, lalu
meletakkan kedua telapak tangannya di
dadaku. Jari-jarinya lurus berada di
bawah daguku. Agak geli juga aku ketika
jari-jari itu bergerak-gerak seperti
memijat atau mengelus dagu hingga
leher. Kemudian terasa tangan itu
bergeser turun, dan terus turun hingga
penutup dadaku pun ikut merosot
terbuka. Getar-getar aneh tapi nikmat
kurasakan sewaktu kedua telapak
tangan itu menelangkup tepat di kedua
payudaraku yang sudah telanjang. Mata
kupejamkan lagi, dan kurasakan pijatan-
pijatan lembut itu. Berkali-kali ludah
kutelan membayangkan kemesraan dan
kenikmatan.
"Apa Mbak juga merasakan yang begini
ini dengan Pak Kosim?" tanya Mbah
Purwo.
"Ii.. iya, Mbah," jawabku malu-malu
sambil mendesah nikmat tanpa sadar.
Tubuhku pun menggelinjang. Birahiku
melonjak-lonjak. Hal ini berlangsung
cukup lama, selama pijatan-pijatan di
sekitar dada dan payudaraku terus
dilakukannya. Lama sekali rasanya
sampai aku terlena setengah
mengantuk. Sekonyong-konyong
kurasakan hisapan pada puting kananku.
Keras sekali. Aku terlonjak, tapi lenganku
kiri-kanan segera ditekannya dengan
kedua tangan hingga tidak dapat
bergerak. Hisapan itu lalu berpindah ke
kiri. Begitu dilakukannya berkali-kali
sampai kurasakan payudaraku
menggembung kian besar, seperti
birahiku.
"Maaf, saya terpaksa harus mengambil
cairan yang di bawah, Mbak Surti!"
pintanya setelah menghentikan
hisapannya.
Belum sempat kujawab, dengan cepat
salah satu tangannya turun dan terus
turun menelusupi celana dalamku hingga
terlepas. Aku tersentak ketika salah satu
jarinya menyentuh, membelai dan
memasukiku. Aku tambah tersentak-
sentak manakala jari itu semakin nakal
dan liar seperti ular.. menjadi besar dan
panjang. Tanpa sadar kubuka pahaku
lebar-lebar. Mataku yang semula
terpejam jadi terbeliak menahan
kenikmatan.
Entah kapan dilakukan, ternyata kulihat
milik Mbah Purwo lah yang telah
memasukiku. Tidak tahu pula kapan ia
menanggalkan busananya hingga bugil
sepertiku. Ia menikamku bertubi-tubi
dengan bertumpu pada lututnya.
Mencangkul dan memasak diriku dengan
gencar. Gerakannya yang lihai
membuatku terlonjak-lonjak, dan aku
terpaksa harus bangkit terduduk
berpegangan pundaknya karena tidak
tahan gempurannya.
"Bertahanlah.. Kita harus keluar
bersamaan.." bisiknya ke telingaku
sambil memeluk tubuhku dan terus
membuatku kelojotan.
"Ampun, Mbah.." antara sadar dan tidak
aku mengeluh karena merasakan
kenikmatan sekaligus sedikit rasa sakit
bersamaan.
"Tahan sebentar sakitnya, kau pasti
akan mengalami puncak kenikmatan
yang belum pernah kaurasakan seumur
hidup.. Paku Bumiku terkenal paling
hebat."
Setelah ucapan ini, dia membaringkanku
dan menindihku dengan berat tubuhnya
yang laksana tiga karung beras. Aku
tidak dapat bergerak selain membuka
paha semakin lebar dan merangkulkan
kaki ke pahanya. Puluhan menit lamanya
kami bertahan dalam posisi
menggairahkan itu. Hebat sekali pria ini
mengolah gerak tubuhnya memuasiku
dan dirinya sendiri tanpa kenal lelah.
Menikam. Menghantam. Memacu dan
terus memacu. Akhirnya kurasakan dia
bagaikan seorang joki yang hendak
mencapai garis finish. Dipacunya kuda
sekencang-kencangnya. Nafasnya
memburu menyapu wajahku.
Dipagutnya bibirku.
Aku tidak tahan lagi. Seerr.. Bentengku
jebol sudah.. kenikmatan yang dikatakan
tadi benar-benar kualami. Bersamaan
dengan itu tubuh di atasku pun
mendadak tersentak-sentak belasan
kali, sebelum akhirnya terpuruk lunglai.
Keringat yang berleleran tidak kami
hiraukan. Kami berpelukan meredakan
nafas yang menderu.
"Mandilah di belakang," suruh Mbah
Purwo sambil mengenakan pakaianya
kembali.
Ia ternyata cepat pulih lagi.
"Aku sudah memasang penangkal Paku
Bumi pada kelaminmu. Nanti kau akan
kuberi penangkal guna-guna Pak Kosim
dan obat kuat untuk menyembuhkan
rasa capai," lanjutnya sambil keluar dari
bilik.
Perlahan aku bangkit. Tubuhku terasa
hancur sama seperti setelah digilir
ketiga pemuda itu. Bisa kubayangkan
kekuatan Mbah Purwo. Setelah mandi
dan merapikan diri, aku kembali
menghadap Mbah Purwo.
Dengan agak malu-malu aku bertanya,
"Untuk apa penangkal di dalam kelamin
saya ini, Mbah?"
"Oh, itu supaya Mbak tidak mudah
terangsang. Saya rasakan tadi Mbak
memiliki nafsu syahwat yang sangat
kuat. Rangsangan sedikit saja sudah
bisa membangkitkannya. Sengaja aku
tidak beritahu sebelumnya bahwa untuk
memasang penangkal Paku Bumi harus
dalam keadaan orgasme. Kalau
sebelumnya diberitahu, biasanya malah
susah mencapai orgasme, dan mana
mungkin Mbak mau saya begitukan,
kan?" goda Mbah Purwo sambil
tersenyum padaku.
Aku menunduk malu teringat ekspresiku
sewaktu kesakitan tadi.
"Sampai berapa lama penangkal ini
berfungsi, Mbah?" tanyaku masih
penasaran.
"Selama belum diambil. Selama Mbak
masih mudah terangsang, maka ia
otomatis akan bekerja. Ia akan
mengingatkan Mbak dengan sedikit rasa
tidak enak seperti orang sedang
menstruasi.."
"Apa ini berarti saya akan merasakan
sakit itu setiap akan berhubungan
dengan pria?" kejarku lagi.
"Lho, bukankah Mbak ini janda? Mau
berhubungan dengan siapa?"
Pertanyaannya yang tidak terduga ini
membuatku malu besar.
"Oh.. eh.. maaf, Mbah.."
"Ngg.. ya saya tahu," ujarnya penuh
pengertian," wanita seusia Mbak dengan
nafsu sangat kuat pasti masih
membutuhkan hubungan seks dengan
lawan jenis, tidak perduli janda atau
bukan. Jangan kuatir, penangkal saya
cuma akan memberi rasa tidak enak
sekitar lima menit. Hal ini cuma untuk
mengingatkan saja. Kalau suatu ketika
Mbak benar-benar sudah tidak tahan
dan harus bersetubuh dengan pria,
maka lakukanlah setelah lima menit itu
berlalu, maka rasa tidak enak itu akan
hilang sendiri. Paku Bumi memang cuma
untuk mengingatkan. Kalau yang
diingatkan tidak mau maka penangkal
ini akan melemah sendiri dan
membiarkan segalanya terjadi." Panjang
lebar Mbah Purwo menjelaskan.
"Oh ya, kalau nanti sewaktu-waktu
Mbak menikah lagi, penangkal itu
sebaiknya diambil supaya tidak
mengganggu. Datanglah ke sini karena
yang bisa mengambil hanyalah orang
yang memasangnya.."
"Bagaimana mengambilnya, Mbah?"
tanyaku bodoh.
"Yah, kira-kira sama seperti waktu
memasangnya. Harus dalam keadaan..
orgasme. Tidak susah kan, Mbak, wong
cuma tidur telentang sebentar dan
merasakan kenikmatan?" lagi-lagi Mbah
Purwo menggodaku sambil tersenyum
nakal.
Aku tersipu-sipu.
Mbah Purwo masih melanjutkan, "Atau
kalau Mbak Surti sewaktu-waktu tidak
tahan dan cuma butuh kenikmatannya
saja, boleh kapan saja datang ke sini.
Pasti saya layani tanpa resiko kehamilan
dan tak perlu bayar he.. he.. he.."
"Sudah.. sudah, Mbah, saya tahu.
Sekarang saya mau pulang," aku
memutuskan obrolan ngeresnya.
"Ini obat penyembuh rasa sakitnya tadi,
sekaligus pencegah kehamilan. Diminum
dua kali sehari selama tiga hari,"
diberikannya enam butir kapsul padaku
dan sebungkus kain hijau.
"Bungkusan hijau ini gantungkan di atas
pintu kamar. Bila Mbak berdiri di
bawahnya, maka otomatis guna-guna
Pak Kosim atau yang sejenisnya,
pokoknya yang berkaitan dengan
rangsangan birahi, akan tidak mempan
dan hilang."
Aku pun pamit pulang setelah menerima
benda-benda itu, dan memberikan
selembar puluhan ribu pada Mbah
Purwo. Hampir jam 11 waktu itu, berarti
sekitar dua jam aku di ruang Mbah
Purwo. Dan mungkin satu setengah jam
lebih kami habiskan waktu di bilik kecil
itu.
Oh.. bisakah kejadian dengan Mbah
Purwo ini disebut guna-guna juga?
Nyatanya toh aku melayaninya dalam
keadaan sadar tanpa paksaan. Aku juga
tidak disuruhnya minum atau makan
pemberiannya yang mungkin dicampur
obat perangsang. Apa benar nafsu
syahwatku memang sangat besar?
Seingatku dulu aku juga melakukannya
dengan suamiku secara wajar-wajar
saja. Seminggu tiga atau empat kali. Apa
mungkin aroma harum di bilik kecil itu
merupakan bau-bauan perangsang? Aku
tidak sempat berpikir lebih lama, karena
si tukang ojek kelihatan sudah
menjemput datang. Aku bergegas
pulang.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Aku
sudah kembali melakukan pekerjaan
rutin mencuci. Penghasilan dari mencuci
cukuplah untuk kehidupanku sehari-hari,
bahkan kadang lebih. Lebihannya ini
kutabung di bank. Kadang Basuki,
anakku lelaki, mengirimiku beberapa
puluh ribu rupiah, ini pun kutabung.
Sementara Nina yang gajinya lebih kecil
belum bisa mengirimiku. Aku maklum
akan hal ini. Bekerja di Tangerang
dengan standar hidup seperti Jakarta
pasti memerlukan biaya besar. Untuk
makan, bayar kost, dan keperluan hidup
sehari-hari pasti menghabiskan
sebagian besar gajinya.
Aku hanya berharap mereka dapat
menimba pengalaman sebanyak-
banyaknya dengan bekerja di kota
besar.
Aku hanya berpesan pada Basuki dan
Nina, "Kalau berhasil, kalian akan
mencapai hidup lebih baik di sana.
Kalau toh gagal, jangan malu untuk
pulang, karena pengalaman yang
didapat dari bekerja di kota besar dapat
digunakan di sini."
Hari ini aku mendapat surat dari Nina.
Ya, dia memang lebih sering menulis
surat dibanding kakaknya. Maklum anak
laki suka malas menyurati. Paling Basuki
hanya titip salam lewat surat Nina. Ini
pun bagiku sudah cukup. Asal mereka
sehat dan bahagia, senanglah aku. Tentu
saja dalam surat balasanku selalu
kuceritakan kesehatanku dan hal-hal lain
yang baik-baik, supaya mereka pun
senang dan tidak kuatir dalam bekerja.
Sedangkan kejadian memalukan dengan
Pak Kosim, ketiga pemuda dan Mbah
Purwo tidak pernah kusinggung-
singgung. Biarlah peristiwa itu kusimpan
menjadi rahasiaku sendiri.
Meski demikian, dalam hati kecilku
sebenarnya masih ada rasa penasaran
untuk mencoba keampuhan penangkal
Mbah Purwo. Enam butir kapsul yang
diberikannya padaku dulu memang telah
terbukti kemanjurannya. Bahkan pada
hari kedua setelah kuminum, tubuhku
sudah segar kembali. Dan haidku bulan
ini juga lancar seperti biasa. Aku
memang pernah kuatir terjadi kehamilan
setelah pengalamanku dengan Pak
Kosim. Apa jadinya kalau janda
sepertiku yang baru ditinggal suaminya
tiga bulan hamil? Pasti akan sangat
memalukan. Pasti aku akan dikucilkan
masyarakat. Untunglah kapsul
pemberian Mbah Purwo sangat
mujarab.
Sekarang yang masih ingin kubuktikan
adalah penangkal berbungkus hijau yang
sudah kugantung di atas pintu kamar.
Katanya ini akan menangkal guna-guna
yang sifatnya perangsang birahi. Sudah
sebulan lebih sejak kudapat penangkal
itu ternyata Pak Kosim tidak lagi
mengguna-gunaiku. Aku tahu ini karena
aku tidak pernah lagi terbangun di
tengah malam dengan tubuh kepanasan.
Berkali-kali aku ke rumah Pak Kosim
mengambil cucian atau mencuci di sana,
dan ia nampak wajar-wajar saja. Apa
mungkin karena anak-istrinya di rumah
maka ia tidak mengguna-gunaiku lagi?
Aku jadi teringat, dari dua kali
pengalaman diguna-gunai, selalu rumah
dalam keadaan sepi. Hanya ada Pak
Kosim seorang diri. Istri dan anaknya
sedang pergi.
"Akan kutunggu sampai mereka pergi,"
pikirku ingin mencoba.
Dan saat itu pun tiba ketika hari itu aku
mengantar cucian dan bertemu Bu
Kosim.
"Mbak Surti, maaf ya, besok pagi libur
dulu karena saya dan anak-anak akan
pergi ke luar kota berlibur selama tiga
hari. Di rumah tinggal Bapak sendiri, jadi
cucian cuma sedikit. Nanti saja sekalian
diambil kalau kami sudah kembali,"
ujarnya.
Aku pun mengiyakan.
Maka kumasuki hari-hari berikutnya
dengan penuh kewaspadaan. Dua hari
berlalu tanpa terjadi apa-apa. Baru
pada hari ketiga malam, mendadak aku
terbangun di tengah malam dengan
mandi keringat.
"Inilah saatnya," pikirku.
Kubiarkan beberapa lama keadaan itu
sebelum aku melangkah keluar kamar.
Kusiapkan beberapa perlengkapan yang
sengaja akan kubawa untuk
memerangkap Pak Kosim.
Setelah merasa siap, aku pun berjalan
keluar kamar. Tepat di ambang pintu,
aku berhenti di bawah bungkusan
penangkal yang pernah diberikan Mbah
Purwo dan.. benar saja, perlahan-lahan
tubuhku seperti ditiup kipas angin. Sejuk
menyegarkan dan dengan cepat
mengeringkan keringatku, sehingga suhu
tubuhku pun normal kembali. Aku pun
semakin yakin akan keampuhan
penangkal Mbah Purwo. Namun sesuai
rencanaku, aku tetap berjalan menuju ke
rumah Pak Kosim dengan membawa
beberapa perlengkapan yang
kusembunyikan di saku daster. Aku ingin
memberi pelajaran pada Pak Kosim
supaya ia tidak mengulang
perbuatannya lagi. Sengaja kulalui jalan
yang sama yang pernah kulewati dua
kali.
Sebelum sampai, dari kejauhan sudah
kulihat Pak Kosim tengah berdiri di
depan pintu rumahnya. Langkahku pun
semakin yakin. Dengan ekspresi pura-
pura terkena guna-guna, kudekati rumah
itu.
"Mari, silakan masuk, Surti," sambut Pak
Kosim seperti biasa sambil membuka
pintu.
Tanpa bersuara aku masuk lalu
menunggunya hingga selesai mengunci
pintu. Setelah itu kuikuti dia ke
kamarnya.
Ketika dia memberikan segelas teh
manis, meski semula ragu-ragu, kuteguk
habis juga. Benar saja, sebentar
kemudian aku merasa birahiku mulai
meronta minta pemuasan. Bersamaan
dengan itu kurasakan pula rasa kurang
enak di bawah pusarku seperti hendak
menstruasi. Maka aku teringat kalau
penangkal Mbah Purwo pasti sedang
bekerja. Oleh karenanya aku pun
bertahan sebisa mungkin untuk tidak
dikuasai pengaruh jahat minuman Pak
Kosim. Hanya dua menit gejolak itu
mereda dan hilang sendiri.
Dalam hati aku semakin salut pada
penangkal Mbah Purwo. Lalu mulailah
Pak Kosim minta aku memijatnya. Aku
pun pura-pura mematuhinya sambil
mengamat-amati situasi. Juga ketika ia
menyuruhku membuka daster, ini pun
kuturuti. Supaya dia lebih terlena aku
memijat dengan duduk setengah bugil di
atas punggungnya. Aku harus tahan malu
untuk membuka kedoknya. Toh hanya
kami berdua yang tahu peristiwa ini.
"Silakan tidur dulu, Pak," bisikku ke
dekat telinganya.
Ia hanya manggut sedikit, lalu
memejamkan matanya. Nampaknya kali
ini Pak Kosim tidak terburu-buru lagi. Ia
merasa dirinya sudah cukup
pengalaman dan dapat mengatur waktu
kapan harus membawaku ke bawah
pohon itu selagi aku tertidur.
"Biar cepat tidurnya matanya ditutup
ya, Pak," bisikku lagi.
Ia tak bereaksi. Perlahan kuambil kain
hitam yang sudah kusiapkan.
Sambil memijit-mijit pelipis dan
keningnya, kututup mata Pak Kosim. Ia
tersenyum merasakan ulahku. Mungkin
menganggapku sedang bermain-main.
Diam-diam kuambil cairan pewarna dari
saku daster yang kuletakkan di dekatku.
Sambil tetap memijit, tanganku asyik
pula melumuri punggung Pak Kosim
dengan pewarna merah itu. Kalau sudah
kering, dalam waktu berhari-hari berulah
pewarna itu bisa hilang. Di bagian
punggung yang sulit terjangkau tangan
kutulisi "Ini bukti aku main serong". Aku
ingin hal ini menjadi bukti di depan
istrinya nanti kalau Bu Kosim sudah
pulang.
Sebelum pewarna itu kering benar,
cepat-cepat tangan kubersihkan dengan
lap yang juga kubawa di dalam kantung
daster. Lalu punggung Pak Kosim pun
kutiup-tiup kecil supaya cepat kering.
Sambil menunggu kering benar, aku
berpindah memijat kakinya.
"Berbalik, Pak," bisikku lagi sesudah
kuperkirakan pewarna di punggungnya
kering.
Ia pun menuruti perintahku. Kupijat
sebentar di atas pusarnya, lalu
berpindah ke pahanya. Aku tahu ia
mulai terangsang ketika kulihat gerakan-
gerakan di balik celana dalamnya.
"Kita main-main sebentar, Pak," bisikku
sambil membawa kedua tangannya ke
atas kepala.
Kuambil tali sepatu nilon, lalu kuikat
kedua tangan itu ke tiang ranjang besi
tempat kami berada. Kedua tangan itu
sekarang terpentang. Ia pasti tidak
sanggup melepaskan dirinya sendiri
tanpa bantuan.
Kuraba dadanya yang tipis. Rabaanku
turun dan terus turun. Ia menggelinjang
ketika celananya kuperosotkan.
Sebatang benda tumpul nampak
bergoyang-goyang. Tapi aku tidak
terusik. Kusiapkan tali nilon lagi lalu
kuikat kaki-kaki Pak Kosim kuat-kuat
dengan simpul mati. Kupentangkan
keduanya dan kuikat erat ke kiri-kanan
tiang ranjang. Jadilah sekarang dia
dalam keadaan terentang di ranjang. Aku
tersenyum puas.
"Sekarang tinggal aku
mempermainkannya," senyumku sambil
mengenakan dasterku kembali.
Kuambil segulung benang jahit ukuran
besar yang sudah kusiapkan untuk
menghukumnya dengan membuatnya
impoten sementara waktu. Kuharap ia
akan jera dan membuatnya mengakui
kesalahannya dan mengaku untuk tidak
mengulanginya.
Setelah merasakan tersiksa dan tidak
berdaya, aku hanya menunggu hingga
pagi hari. Rencanaku adalah
membuatnya tertangkap basah oleh
istrinya dengan keadaan yang tidak
berdaya itu. Setelah meastikan dia tidak
akan telepas dengan sendirinya. Aku pun
meninggalkannya sendiri di kamarnya.
Aku sudah dapat memastikan kalau
sebentar lagi Pak Kosim akan
tertangkap basah oleh istrinya dan tidak
akan mengulani perbuatannya lagi.
Kejadian itu membuatku merasa puas
akan balas dendamku, dan perasaanku
dan hidupku sekarang dapat lebih
tenang.
*****
Beberapa hari kemudian, tepatnya
malam kedua setelah kejahatan Pak
Kosim ketahuan oleh istrinya dan dia
mau bertobat, aku tidak dapat tidur
dengan tenang. Sekitar jam satu malam
aku terbangun dangan keringat
membasahi hampir separuh pakaianku.
Aku merasakan hawa panas melingkupi
rumahku saat itu.
Ketika aku akan bangkit untuk membuka
jendela kamarku, aku melihat Pak Kosim
sudah berdiri di depan pintu kamarku.
Pria itu tidak terlihat seperti sebelumya
yang ketakutan ketika melihatku. Kali ini
wajahnya penuh dengan arti
kemenangan. Aku pun teringat akan
jimat penangkal guna-guna yang
kuletakkan di atas pintu rumahku.
Benda itu kini berada di tangan kanan
pria itu.
Pria itu mendekatiku seraya membuka
pakaiannya. Aku tidak mampu bergerak
dipandanginya. Tubuhku kaku, tetapi
keringat tetap mengalir. Tiba-tiba dia
mengangkat tubuhku dan
membaringkanku di atas dipanku. Dia
mulai membuka pakaianku. Mulai dari
atas hingga bagian celana dalamku pun
tidak luput darinya. Hawa dingin mulai
merasupi tubuh telanjangku di tengah
malam ini. Aku benar-benar sedang
dalam bahaya yang tidak kuasa
kulawan.
Dia mulai merangsangku dengan
menjilat dan menghisap daerah-daerah
sensitifku. Aku sudah terangsang, tetapi
mulai kurasakan rasa sakit akibat
penangkal dalam tubuhku bereaksi. Sakit
itu membuatku tambah tidak berdaya,
dan lebih-lebih ketika pria itu mulai
menggagahiku.
Tiba-tiba ada suatu sentakan dalam
diriku yang membuatnya tejungkal jatuh.
Aku heran, aku yang sedang tidak
berdaya tidak mungkin mempunyai
kekuatan seperti itu untuk mebuatnya
terjungkal. Tetapi dia kembali
menggagahiku lagi, aku tetap tidak
berdaya ketika pria itu kembali
membentangkan pahaku. Dan dengan
cepat menindih serta menghantamku
lagi. Aku pasrah berdiam diri.
Membiarkan tubuhku digoyang-goyang
lagi. Namun baru beberapa kali gerakan,
tiba-tiba.."Gdebrukk!"
Lagi-lagi Pak Kosim terjungkal jatuh.
Ia nampak amat sangat terperanjat
karena kali ini tidak melihatku
melakukan gerakan apa pun. Seolah ada
kekuatan tidak terlihat yang
mendorongnya keras. Begitu bangkit
terlihat ia memegangi miliknya dan
menyeringai kesakitan.
"Uffh.. Baik, kali ini kau menang lagi,
Surti. Tapi aku tak akan berhenti
sebelum mengalahkanmu!" ancamnya.
Setelah kata-katanya berakhir
mendadak, "Buss!" tubuh Pak Kosim
lenyap menjadi asap dan menghilang
melalui sela-sela jendela kamarku.
"Byaar!" dunia pun seakan terang
kembali di hadapanku.
Pengaruh magis Pak Kosim pada diriku
ikut sirna bersama kepergiannya. Aku
terduduk di tempat tidur. Merenungkan
apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa Pak Kosim tidak menepati
janjinya?" aku bertanya-tanya.
"Bukankah ia bersumpah tidak akan
mengulang perbuatannya lagi, dan.. dan..
bukankah ia telah impoten sejak aku
berhasil menangkalnya?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk di
benakku.
"Apa mungkin ia melaporkan peristiwa
dulu itu kepada dukunnya, dan minta
untuk membalas dendam padaku?
Bagaimana pula aku bisa punya
kemampuan melawannya setelah tadi
penangkalku dihancurkan?"
Pertanyaan-pertanyaan tadi tetap tidak
terjawab sampai mataku menjadi berat
minta istirahat. Aku tidak perduli dengan
pakaianku yang masih bertebaran.
Esoknya terjadi kegemparan di antara
orang-orang kampungku. Pak Kosim
diketemukan tergeletak pingsan di
bawah pohon besar tempat aku pernah
ditemukan. Sewaktu dulu aku yang
mengalami, beritanya tidak begitu
meluas, karena aku orang kecil. Namun
sekarang peristiwa yang sama dialami
Pak Kosim yang pengurus RW, beritanya
jadi cepat menjalar.
Konon, ketika ditemukan Pak Kosim
hanya bercelana dalam serta nampak
kesakitan dan terus memegangi pangkal
pahanya yang kelihatan bengkak dan
memar-memar biru. Benakku segera
menghubungkan kondisi Pak Kosim itu
dengan pengalamanku semalam.
"Biar tahu rasa dia!" pikiranku
mendampratnya.
Kebetulan hari itu juga aku harus
mengambil cucian di rumahnya.
Beberapa tetangga masih kelihatan di
halaman depan rumah itu ketika aku
masuk. Diam-diam aku masuk dan
menguping pembicaraan orang-orang itu
tanpa mereka ketahui.
"Katanya sih Pak Kosim dibawa
penunggu pohon itu."
"Iya, dulu juga si Surti tukang cuci itu
pernah mengalami hal yang sama."
"Kok saya tidak tahu ya? Kapan itu?"
"Yah, kira-kira dua bulan yang lalu.."
"Tapi sekarang Pak Kosim nampaknya
parah lho.. tubuhnya sakit semua,
malah.. alat vitalnya juga.."
"Jangan-jangan..," suaranya semakin
berbisik, "Penunggu pohon itu wanita
dan telah memperkosanya hi.. hi.. hi.."
Aku tersenyum kecut mendengar dugaan
yang terakhir ini. Oh, orang kalau sudah
ngomongin orang.. Orang lain yang
sedang tertimpa musibah pun bisa
menjadi bahan tertawaan dan lelucon.
Sepertinya dia yang paling tahu dan
benar saja. Coba kalau dia sendiri yang
mengalami musibah itu, apa masih bisa
tertawa?
Sementara itu menurut tukang
kebunnya, Bu Kosim serta anak-anaknya
sedang mengantarkan Pak Kosim ke
dokter untuk diperiksa. Di bagian dalam
rumah agak sepi. Maka aku pun
memberanikan diri memasuki kamar
utama, tempat aku dulu pernah dizinahi
Pak Kosim. Untung tidak dikunci.
Mataku memandang berkeliling. Kolong
ranjang pun tidak ketinggalan kuperiksa.
Akhirnya setelah membuka beberapa
laci meja dan lemari yang tidak terkunci,
kutemukan benda yang tidak
sepantasnya ada di kamar itu, yakni
celana dalamku! Aku ingat benar benda
itu adalah milikku yang tertinggal dulu.
Pak Kosim pasti sengaja menyimpannya
supaya dapat tetap mengguna-gunaiku.
Aku telah tertipu pada mulut manisnya
yang mengungkapkan penyesalannya
waktu itu.
Memang, setelah dia berhasil
kutaklukkan dulu di hadapan istrinya
sendiri, sempat kulihat dan rasakan
hubungan kami menjadi tidak yang
seperti dulu yang Pak Kosim acuh tidak
acuh terhadapku. Tetapi bagaimana
dengan penjelasan celana dalamku ini?
Sebenarnya hukuman untuknya sudah
cukup besar dariku, karena sudah
menerima rasa malu dari kekalahannya
dan ketahuannya dariku. Belum lagi
ditambah dengan istrinya yang marah
besar melihat suaminya berani
memasukkan wanita sembarangan ke
kamar mereka. Lebih lagi wanita itu
ternyata hanya meperdayai suaminya.
Apapun akibatnya, sekarang Bu Kosim
jadi tahu karakter suaminya. Ternyata ia
bukan pria yang dapat dipercaya begitu
saja. Ditambah lagi sekarang Pak Kosim
ditemukan orang tidur setengah
telanjang di bawah pohon. Apalagi yang
dilakukannya kali ini?! Betapa
menjengkelkan tua bangka ini, sekaligus
memalukan!
Kubawa celana dalamku itu. Kutaruh
bercampur dengan cucian yang kuambil.
Aku akan membakarnya supaya tidak
ada lagi sisa-sisa barang yang dapat
dipakai untuk mengguna-gunaiku. Meski
begitu, aku sebenarnya masih agak
penasaran kenapa Pak Kosim bisa
terkapar pingsan di bawah pohon itu.
Apakah ada kekuatan lain yang telah
mengalahkannya? Bukankah ia, dengan
berubah menjadi asap, sudah pergi dan
tubuhnya tidak mengalami cedera berat
setelah gagal menodaiku? Jangan-jangan
ia mengira aku yang telah
mempermalukannya di bawah pohon
itu. Bagaimana kalau ia masih mau
membalas dendam lagi?
Kekuatiran dan rasa penasaran itu
membuatku tidak dapat tidur nyenyak
selama beberapa hari. Haruskah
kutemui Mbah Purwo kembali untuk
memupus kegelisahanku ini?
"Jadi begitu ceritanya, Surti," ujar Mbah
Purwo setelah mendengar ceritaku.
Kali ini aku tidak malu menceritakan
tentang usaha Pak Kosim menggagahiku
lewat guna-guna lagi. Bahkan sampai
membuatku beku dan mendatangi
rumahku. Mbah Purwo juga sudah tidak
sungkan-sungkan lagi memanggilku
tanpa sebutan "Mbak" lagi. Mungkin ia
merasa akrab sejak "memasang"
penangkal pada tubuhku dulu.
"Iya, Mbah. Bagaimana ini?" tanyaku.
"Kalau menurutku, Pak Kosim sendiri
memang tidak mungkin lagi berani
mengguna-gunai siapa pun sejak
berhasil kau lumpuhkan. Ia pun
sekarang memang sungguh-sungguh
sedang mengalami impoten. Hal ini
dapat dianggap sebagai tumbal yang
harus ia tanggung karena sudah
memakai guna-guna hitam itu. Meskipun
impotennya itu hanya bersifat
sementara. Aku menduga, kemungkinan
besar yang datang ke rumahmu kemarin
itu adalah Mbah Dipo, dukunnya Pak
Kosim. Hanya saja ia menggunakan raga
Pak Kosim sebagai sarananya. Reputasi
dukun ini memang kurang baik di mata
dukun-dukun lain. Ia sering
menghalalkan segala cara."
Aku manggut-manggut mencoba
memahami dunia para dukun.
"Rupanya Pak Kosim melaporkan
kekalahannya olehmu itu. Lalu Mbah
Dipo, yang merasa tidak suka, berupaya
menyakitimu. Memang ia telah
menghancurkan penangkal yang kuberi
itu, tapi ia tidak menduga bahwa aku
pun telah memasang Paku Bumi di
tubuhmu. Dan kebetulan sekali ia
beraksi tepat pada waktu Paku Bumi
juga sedang bekerja. Seandainya ia
bersabar sedikit barang lima menit
pastilah maksudnya akan kesampaian.
Kau ingat kan, Sur, bahwa Paku Bumi
hanya bereaksi sekitar lima menit.
Setelah itu ia akan melemah dengan
sendirinya. Bila dalam masa lima menit
tadi ada yang memaksakan
kehendaknya, maka otomatis penangkal
ini akan bereaksi keras menolaknya. Bila
yang memaksakan kehendak adalah
orang yang dipasangi penangkal ini,
maka engkau akan merasakan kesakitan
yang luar biasa. Bila yang memaksakan
kehendak adalah orang lain, maka ia
akan ditolak dengan rasa sakit luar biasa
pada alat vitalnya. Kurasa orang itu
mengalami hal itu.."
Aku bersyukur dapat selamat dari nafsu
Mbah Dipo. Ya, ia memang tidak sabar
dan menyerangku tepat pada waktu
penangkal Paku Bumi sedang bereaksi,
ketika perutku sedang melilit sakit.
Seandainya ia mau bersabar sebentar
saja, tidak tahulah apa jadinya dengan
diriku.
"Jadi sekarang sebaiknya bagaimana,
Mbah..?"
"Kukira ia benar-benar akan membalas
dendam. Oleh karena itu kau harus
berjaga-jaga."
"Mbah akan memberi penangkal lagi?"
"Ya. Tapi tolong, bagaimana pun
kasihannya kau pada seseorang, jangan
biarkan ia tahu soal penangkal ini.
Rahasiakan hal ini dari siapapun, bahkan
anakmu sendiri. Hanya kita berdua yang
tahu masalah ini. Ingat, bila rahasia ini
bocor, taruhannya sekarang adalah
nyawamu. Di dalam dunia perdukunan,
bila seseorang sudah berani melawan
seorang dukun, berarti si dukun sudah
siap bersabung nyawa dengan orang itu.
Kalau rahasia kekuatan orang itu sudah
diketahui oleh si dukun, sama artinya
dengan menyerahkan nyawanya pada si
dukun."
"Aku janji tidak akan membuka rahasia
lagi, Mbah," jawabku.
"Karena si dukun yang mengincarmu ini
tergolong dukun cabul, maka biarkan
penangkal Paku Bumi tetap ada pada
dirimu. Dengan pengalaman yang
pernah terjadi, kau tentu sudah lebih
tahu bagaimana menggunakannya, kan?"
"Iya, Mbah."
"Yang kedua, aku akan memberimu
penangkal yang lebih kuat dari yang
kemarin. Taruhlah ini di rumahmu di
tempat yang tersembunyi. Ia akan
menjaga dari ancaman guna-guna hitam
yang masuk ke rumahmu. Siapa pun
yang mengirim guna-gunanya akan
mendapat reaksi perlawanan dari
penangkal ini. Hanya orang yang lebih
kuat dari penangkal itu sajalah yang
dapat masuk ke rumahmu dengan guna-
gunanya. Terimalah ini.."
Kuterima bungkusan kuning dari Mbah
Purwo. Agak lebih besar sedikit dari
penangkal berbungkus hijau yang telah
dihancurkan Mbah Dipo.
"Apa masih ada yang lain lagi, Mbah?"
tanyaku.
"Ehem, ehem," Mbah Purwo
mendehem, "Kalau yang ini terserah kau
saja mau menerimanya atau tidak, yakni
kemampuan bathin Satu Raga. Dengan
memiliki kemampuan bathin ini nantinya
kau bisa memanggilku kapan saja
diperlukan, terutama dalam keadaan
kritis yang berkaitan dengan
perdukunan."
"Aku mau, Mbah," jawabku tanpa pikir
panjang.
"Syaratnya.., raga kita harus bersatu
lebih dulu. Apa kau sanggup, Sur?"
"Eh.. oh.. ap.. apa ini sama seperti
waktu memasang Paku Bumi. Mbah?"
aku tersipu malu.
"Ya, prosesnya memang harus melalui
cara itu, Sur. Namanya juga Satu Raga..
Silakan kau pikirkan dulu. Kalau kau
bersedia, kau harus menginap di sini
karena prosesnya lama.. Maaf, silakan
kau berpikir di ruang dalam, karena
pasien yang lain sudah menungguku."
Aku berjalan memasuki bagian dalam
rumah Mbah Purwo yang kelihatan
biasa seperti rumah pada umumnya.
Tidak kulihat siapapun lagi di rumah itu.
Pasti ia hidup sendiri. Aku duduk
tercenung di atas kursi bambu di
halaman belakang.
"Ah, kenapa lagi-lagi aku dituntut
melakukan perbuatan itu?" pikirku.
Kalau dulu aku melakukannya dengan
Pak Kosim dan ketiga pemuda dalam
keadaan tidak sadar karena pengaruh
guna-guna. Maka sekarang aku dituntut
melakukannya dengan sadar tanpa
paksaan. Apa ini bukan akal bulus Mbah
Purwo saja untuk melakukannya yang
kedua kali dengan diriku? Tapi..
penangkal yang dia berikan dulu sudah
terbukti berhasil menyelamatkanku.
Masak dia mau menipu?
Sekarang yang perlu kupertimbangkan
adalah untung-ruginya kalau memiliki
kemampuan Satu Raga. Kemampuan ini
memang tidak ada gunanya kalau
situasinya aman-aman saja. Namun
sekarang sudah jelas posisiku dalam
keadaan terancam pembalasan Mbah
Dipo. Ia tentu akan menggunakan
kekuatan yang lebih hebat lagi. Kemarin
ia telah membuatku hampir mati beku
dan mengelabuiku menggunakan raga
Pak Kosim, sehingga aku hampir pula
dinodainya. Sekarang pasti akalnya lebih
licin lagi. Jiwaku terancam hebat. Ya
kalau penangkal berbungkus kuning itu
mampu mengalahkannya. Kalau tidak
mampu?
Dengan kesaktiannya, kukira Mbah Dipo
pasti dapat menemukan penangkal itu
di mana pun kusembunyikan, lalu
menghancurkannya. Kalau itu yang
terjadi, habislah aku. Ia pun kukira pasti
telah menyiapkan cara untuk
menghadapi penangkal Paku Bumi yang
kumiliki. Aku pun tidak dapat menduga
kapan ia akan datang. Agaknya aku
memang memerlukan penolong yang
siap membantuku setiap saat.
"Mari kita makan siang, Sur," suara
Mbah Purwo mengejutkan lamunanku
yang entah sudah berapa lama.
Tidak terasa matahari telah di atas
ubun-ubun.
"Pasienku sudah habis, dan biasanya
kalau sudah lewat jam satu siang begini
tidak bakal ada yang datang lagi.
Sebaiknya kita makan sekarang,
kemudian kau tidur beristirahat untuk
menyiapkan diri menerima Satu Raga
yang prosesnya berlangsung
semalaman. Kita mulai nanti setelah
makan malam."
Seusai makan, Mbah Purwo memasuki
kamar prakteknya. Katanya ia hendak
menyiapkan perlengkapan untuk nanti
malam. Sementara aku dipersilahkan
tidur di kamar di dalam rumahnya.
Kurebahkan tubuhku yang penat. Bau
harum melati yang bertaburan di atas
tilam menyegarkan penciumanku.
Rupanya Mbah Purwo paling suka
aroma bunga melati, sehingga di setiap
tempat tidurnya bertaburan bunga ini.
Di halaman rumahnya pun tadi kulihat
banyak tanaman ini sedang berbunga
lebat. Aroma khas melati ini
membuatku dengan cepat terlelap.
Biarlah apa yang terjadi nanti terjadilah.
Aku perlu menenangkan kondisi fisikku
yang cukup lelah, karena tadi pagi harus
menyelesaikan cukup banyak cucian
sebelum berangkat ke rumah Mbah
Purwo. Sementara itu psikisku yang
terus didera kejadian-kejadian aneh
rasanya juga lelah sekali.
Sambil berbaring, kupejamkan mata.
Anganku melayang pada Basuki dan
Nina. Sedang apa mereka sekarang?
Semoga kedua anakku itu selalu bahagia
dalam lindunganNya. Hanya mereka
berdua sekarang yang menjadikan
hidupku lebih bersemangat. Andai tidak
ada mereka, entahlah. Mungkin aku
tidak akan bersusah-susah mencari
Mbah Purwo guna mempertahankan
hidup. Akan kubiarkan segala yang
menimpa diriku. Akan kubiarkan diriku
menjadi korban guna-guna. Toh hidup
lebih lama juga tidak menjamin
kehidupanku lebih baik.
Yah, kadang memang aku mengeluh
pada Allah. Kenapa hidup keluarga kami
yang mulai tertata baik mendadak harus
kehilangan tiang penyangga utamanya.
Suamiku meninggal. Sehingga porak-
poranda lah seluruh yang sudah mulai
tertata baik itu. Padahal, menurut
pikiran manusia, keluarga kami tidak
mengharap yang aneh-aneh atau muluk-
muluk. Kami selalu berusaha
mencukupkan diri dengan apa yang kami
miliki.
Punya sedikit tidak mengeluh. (Kadang-
kadang) Punya berlebih, kami pun tidak
menjadi sombong. Sementara banyak
orang yang hidupnya sudah
berkecukupan masih terus memburu
harta-benda tidak berkesudahan. Dan
sepertinya mereka terus mendapat
kelimpahan. Sedangkan kami justru
tertimpa kesedihan? Kenapa ini terjadi,
Tuhan? Inikah memang yang Kau
gariskan? Pertanyaan itu tidak terjawab
sampai mataku terlelap. Dan aku yakin,
misteri Allah ini tidak akan pernah
terjawab oleh siapapun sepanjang
masa..
"Kita makan dulu, Sur," ajak Mbah
Purwo setelah maghrib lewat.
Seperti tadi siang, selama makan aku
pun tidak banyak bicara. Bagaimana pun
tetap ada rasa jengah dalam diriku
mengingat apa yang akan kami lakukan
setelah ini. Mbah Purwo yang coba
mengajakku ngobrol pun tidak mampu
mencairkan suasana hatiku.
"Rupanya kau belum bersikap sungguh-
sungguh untuk menerima Satu Raga,
Sur? Sikapmu masih takut-takut dan
malu-malu.."
"Ak.. aku sudah siap, Mbah."
"Kau jangan menipu mata tuaku ini, Sur.
Kalau kau masih terus bersikap begitu,
maka akan menghambat proses Satu
Raga ini."
"Maaf, Mbah. Aku memang masih
merasa malu dan ragu, soalnya.."
Belum selesai aku bicara Mbah Purwo
sudah memutus.
"Dalam proses Satu Raga, kita tidak
boleh ragu-ragu. Kita harus konsentrasi
penuh dan hanya membayangkan wajah
mitra kita di dalam pikiran. Kalau pikiran
kita tidak konsentrasi, percuma saja kita
melakukan proses Satu Raga ini. Tidak
ada gunanya."
"Iii.. iya, Mbah. Saya akan coba
berkonsentrasi.."
"Tidak mungkin, Sur," tegur Mbah Purwo
arif. "Sekarang begini saja.. Apa kau
membawa foto suamimu? Coba
kupinjam.."
Aku mengingatnya sebentar. Kemudian
beranjak ke kamar mengambil
dompetku. Di situ selalu kuselipkan foto
keluarga kami.
"Ini fotonya, Mbah. Tapi foto keluarga."
"Ini pun cukup. Mari kita ke kamar
praktekku dan memulai proses Satu
Raga."
Kami duduk bersila, berhadap-hadapan.
Mbah Purwo mengamati foto
keluargaku beberapa saat. Dengan jari
telunjuk dan jari tengah, di kiri kanan
ditutupnya gambarku dan kedua anakku
sehingga yang tampak tinggal gambar
suamiku. Dipandangnya gambar itu
tajam-tajam. Lalu sambil memejamkan
mata, dibawanya gambar itu ke
keningnya, ditempelkannya, dan
dibawanya turun melewati wajahnya.
"Pandanglah mataku, Sur!" suara Mbah
Purwo berubah garang memerintahku.
Kuturuti permintaannya. Kupandang
mata laki-laki yang duduk di depanku itu.
Aku terkejut sekali karena ternyata aku
saat itu tengah memandang Mas
Widodo, suamiku! Suamiku hidup lagi!?
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sur?"
tanya Mas Wid.
"Eh.. Oh.. Baik-baik saja, Mas," sahutku
kikuk.
"Lalu Basuki dan Nina sekarang di
mana?"
"Mereka bekerja di Tangerang, Mas."
"Aku rindu sama kamu, Sur.."
Mas Widodo mendekatiku. Dijembanya
aku untuk berdiri. Sebentar kemudian
aku dipeluknya. Dan.. diciumnya.. Aku
ingin meronta, namun nalarku pelan-
pelan berubah total jadi ingin
menerimanya. Air mataku mengucur
haru menerima kehadiran suamiku
kembali. Kubalas pelukannya dengan
kerinduan yang amat sangat.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Mas,"
desahku sambil mempererat pelukan.
"Tidak, Sur."
Masih dalam suasana rindu itu
kurasakan tubuhku dipondongnya. Kami
memasuki bilik kecil berlampu merah.
Aroma cendana dan melati membuat
kami lebih asyik-masyuk. Oh.. betapa
rindunya aku akan belaian dan dekapan
Mas Wid. Lama sekali kami tidak
bermesraan seperti ini. Aku tidak tahan
lagi. Kubuka bajunya.. Aih, sekarang Mas
Wid memelihara bulu dada! Tubuhnya
juga tampak lebih kekar berotot, tidak
seperti dulu, agak kerempeng. Kukecup
dada berbulu itu. Syuur.. terasa di
sekujur tubuhku. Terlebih ketika tangan
kekarnya memelukku ketat dan mulai
nakal menggelitiku.
Sebentar kemudian gaun yang
kukenakan sudah terbang entah
kemana. Aku tidak perduli. Juga ketika
secarik kain terakhir penutup aurat
bagian bawahku ikut merosot turun dan
lepas. Bahkan aku tidak mau kalah.
Kulucuti juga apa saja yang melekat di
tubuhnya. Kami bagaikan dua bayi yang
baru lahir. Kutarik dia hingga kami roboh
bergulingan di atas tilam wangi melati
itu. Ingin kupuasi dahagaku selama ini.
Kubenamkan wajahnya di dadaku
dalam-dalam. Kurasakan hisapan-
hisapan yang membuatku melayang-
layang tinggi ke awan.
Beberapa bulan tidak bertemu, ternyata
sekarang Mas Wid begitu perkasa. Tidak
biasanya ia mencumbuku seperti ini.
Menghisap kuat-kuat. Menggigit-gigit.
Menelusuriku dengan lidahnya.
Membangkitkan ledakan di bagian
sensitifku. Membuatku menggelinjang.
Meronta. Mas Wid begitu liar, ganas dan
dahsyat. Aku kewalahan menghadapi
ulahnya yang tidak seperti biasa.
"Hisap, Sur!" perintahnya sambil
memasukkan jari telunjuk ke mulutku.
Terasa manis. Aku jadi ketagihan.
Menghisap dan menghisapnya terus.
Nikmat sekali! Apalagi bersamaan
dengan itu kurasakan remasan-remasan
di dadaku, kemudian disusul belaian di
bawah pusarku. Aku semakin tidak
tahan. Pantatku terangkat. Birahiku juga.
"Pandang mataku, Sur," kembali
perintah itu kudengar.
Sambil tetap menghisap jari itu, kubuka
mata memandang wajah yang berada
tepat di atasku. Dan.. wajah Mas Wid
pelan-pelan sirna, beralih rupa jadi
Mbah Purwo. Laki-laki itu dengan tubuh
telanjang tengah mengangkangiku.
"Ouh.. Mbah.. kenapa kita begini?"
samar kesadaranku mulai pulih.
Namun segera saja aku tersentak karena
bibirku telah tersumbat bibirnya.
Tubuhku pun didesaknya. Dilumatnya.
Dihisap. Lidahnya membeliti lidahku.
Aku kembali melayang-layang. Kecupan-
kecupan di sekujur wajah, leher, dada,
payudara, perut, pusar dan terus turun
semakin memupus bayangan Mas Wid.
Dalam sekejap aku telah melupakannya.
Walau sekarang kusadari Mbah Purwo
yang tengah menggelutiku, aku tidak
perduli. Yang penting birahiku yang
menuntut kepuasan terpenuhi!
"Augh!" tiba-tiba rasa sakit melilit
menyerang bawah pusarku.
Kulipat kaki secara refleks. Bersamaan
dengan itu Mbah Purwo kurasakan
menghentikan kegiatannya. Berbaring
menopang kepala dengan tangan kiri
sambil tangan kanannya membelai-
belaiku.
"Tahan sebentar saja, Sur. Paku Bumi
sedang bereaksi. Setelah dia selesai,
kita akan segera menuju nirwana.."
Dipegangnya tangan kananku,
dituntunnya menuju ke bawah pusarnya.
Sementara itu aku terus bergelut dengan
rasa sakit.
Gila! Tanganku tidak cukup besar untuk
menggenggamnya. Dadaku ikut
berdesir.. seperti tengah dibelai benda
antik itu. Lima menit menahan sakit
rasanya bertahun-tahun. Aku sudah
tidak sabar lagi..
"Cepat Mbah, sekarang.." pintaku
setelah rasa sakit itu mereda sambil
menarik tubuh Mbah Purwo supaya
menelungkupiku.
"Aku bukan suamimu, Sur," dia tidak
bergeming namun terus membelai-
belaiku.
"Aku sudah tahu, Mbah."
"Kau sungguh-sungguh sudah sadar dan
rela melayaniku, Sur?" tanyanya lagi
sambil terus membangkitkan birahiku.
"Iya, Mbah," jawabku tegas seraya tetap
meremas-remas.
Sejenak kemudian tubuhnya sudah
kembali di atasku. Aku mendesis
membayangkan kenikmatan tiada tara.
"Sekarang proses Satu Raga baru akan
kita mulai, Sur. Hisaplah dadaku,"
perintahnya.
Mbah Purwo menyodorkan dada
kanannya ke bibirku. Terasa manis.
Kemudian beralih dada kiri. Aku
semakin ketagihan dengan rasa manis
itu. Kuperkuat hisapanku. Kuperkuat
pula pelukanku.
Samar kudengar suara bergeremang.
Mungkin dia sedang merapal
manteranya. Aku tidak perduli.
Hisapanku semakin liar kemana-mana
karena ternyata seluruh tubuhnya terasa
manis. Manis dan manis yang
membuatku kian berani dan gila.
Kudorong tubuhnya hingga jatuh
telentang. Kini ganti aku yang berada di
atasnya. Kunikmati kemanisan itu di
sekujur tubuhnya. Di dadanya, di
ketiaknya, di pinggangnya, di perutnya, di
pusarnya dan di.. Oh, sungguh madu
yang sangat harum itu terasa di lidahku
yang terus menghisap dan menghisap.
Dia nampak menggelinjang. Aku senang.
Terus kupermainkan hingga puluhan
menit. Dan.., ia menggelinjang semakin
hebat sampai kemudian lahar manis itu



IKLAN DOMAIN TERMURAH DAN TERJAMIN UNLIMITED DAN AMAN Shared Web Hosting
# Pelet Pemikat Sukma

By JionoWap 2015-09-20
Tags: Pelet Pemikat Sukma
Tulislah komentar Kamu Pelet Pemikat Sukma
Pelet Pemikat Sukma - XtCAT -:- 404
0: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known
Advertise Here

404 - Page Not Found - Back Home


Total Visits: 49738859
Visits Today: 240620
This Week: 240620
This Month: 1733305

This site, is built entirely by using XtGem.

XtGem is a visual mobile site building tool, allowing users to create and maintain highly customizable personal mobile sites completely free of charge - and without a need to know any programming language at all!


U-ON
www.easy-hit-counter.com
Penghitung Kunjungan: 93217
JepriWap © 2011 - 2026
Powered by XtGem.Com